
Wakaf Masjid Osijek, Kroasia
Dompet Dhuafa Osijek, kota terbesar ke-4 di Kroasia, mungkin belum begitu dikenal di telinga banyak orang. Namun siapa sangka, kota ini menyimpan jejak sejarah Islam yang panjang, penuh warna, dan sarat makna.
Sejak abad ke-12, kaum Muslim sudah hadir di Osijek. Piagam Raja Emeric tahun 1196 mencatat keberadaan komunitas Ismailit, pedagang Muslim yang menjadi bagian penting dari denyut ekonomi kota ini. Sejak saat itu, Osijek menjadi simpul pertemuan budaya dan perdagangan.
Puncaknya terjadi di era Ottoman. Setelah kemenangan dalam Pertempuran Mohacs (1526), Sultan Suleiman al-Qanuni menjadikan Osijek sebagai kota strategis. Jembatan Suleiman sepanjang lebih dari enam kilometer di atas Sungai Drava berdiri megah, disebut sebagai salah satu keajaiban dunia kala itu. Masjid Kasim Pasha dan Masjid Mustafa Pasha dibangun, berdiri kokoh bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan dan pendidikan. Setidaknya ada enam masjid yang pernah menghiasi Osijek hingga akhir masa kekuasaan Ottoman pada 1687.
Bayangkanlah, bagaimana gema adzan kala itu memenuhi udara Osijek, menjadikannya pusat spiritual yang hidup di jantung Eropa.

Waktu bergulir. Setelah sekian lama, Muslim kembali bangkit di Osijek pada awal abad ke-20. Tahun 1927, Komunitas Muslim Osijek resmi berdiri. Meski jumlah mereka hanya sekitar 500 orang, semangatnya begitu membara. Tahun 1936, ruang shalat pertama dibuka dengan penuh syukur.
Harapan sempat memuncak saat peletakan batu pertama pembangunan masjid pada 1942. Namun, Perang Dunia II menghentikan cita-cita itu. Baru pada 1978, sebuah rumah sederhana berukuran 70 m² di Zagrebačka 35 difungsikan sebagai masjid—yang hingga kini masih digunakan.
Selama puluhan tahun, masjid kecil itu menjadi saksi betapa umat Muslim Osijek terus bertahan. Meski terbatas, mereka tetap menjaga ibadah, komunitas, dan identitas keislaman.
Kini, sekitar 5.000 Muslim tinggal di wilayah Osijek. Mereka berasal dari berbagai latar belakang: Kroasia, Bosnia, Albania, Turki, Arab, hingga Serbia. Semua menyatu dalam harmoni.
Namun, rumah tua yang kini digunakan sebagai masjid tak lagi memadai. Impian akan rumah ibadah yang layak, nyaman, dan berdaya guna kembali menyala. Berkat kerja keras, akhirnya sebidang tanah di daerah Jug 2 berhasil dibeli. Tahun 2015, izin pembangunan Islamic Center Osijek pun didapatkan.
Islamic Center ini bukan sekadar masjid. Dengan luas lebih dari 900 m², desain arsitek Davor Mateković menghadirkan sebuah “kota kecil” yang mencakup ruang ibadah, pusat pendidikan, budaya, hingga kegiatan sosial. Masjid utama akan diberi nama Masjid Istiqlal, terinspirasi dari Masjid Istiqlal di Sarajevo—simbol persahabatan Indonesia dan Bosnia Herzegovina.
Kelak, Masjid Istiqlal di Osijek akan menjadi mercusuar spiritual, pusat kebudayaan, dan rumah persaudaraan Muslim di Eropa Tengah.
Sahabat, umat Islam di Osijek telah menanti begitu lama. Dari abad ke-12 hingga abad ke-21, perjuangan ini adalah bukti cinta mereka pada agama. Kini, mereka mengetuk hati kita saudara seiman dari Indonesia, untuk membantu mewujudkan impian besar ini.

