
Sekolah Darurat Penyintas Banjir Sumatera
Gopay Saat banyak anak seusia mereka tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir semester, ribuan anak-anak di Sumatera justru harus menghadapi kenyataan pahit. Bukan soal pelajaran, melainkan tentang kehilangan.
Ruang kelas mereka berubah menjadi genangan lumpur. Meja, kursi, dan buku hanyut terbawa arus. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar, bercanda, dan bermimpi kini tinggal puing-puing yang berserakan.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat, lebih dari 1.009 sekolah rusak akibat banjir bandang. Dalam sekejap, anak-anak kehilangan ruang untuk membaca, berhitung, bermain, dan menumbuhkan harapan. Kekosongan itu tak mudah dipulihkan—terutama bagi mereka yang masih menyimpan trauma.

Di tengah kondisi ini, pendidikan darurat menjadi kebutuhan yang mendesak. Anak-anak membutuhkan ruang belajar sementara, kurikulum yang menyesuaikan kondisi krisis, serta pendampingan guru agar mereka dapat kembali merasa aman dan berani bermimpi.
Mari bersama pulihkan trauma mereka dengan menghadirkan ruang aman untuk belajar dan bermain, agar anak-anak Sumatera dapat kembali menatap masa depan dengan senyum dan harapan.
π Klik Donasi Sekarang
