
Sedekah Sembako Pangan untuk Yatim dan Dhuafa
Dompet Dhuafa Walau lansia, tetap semangat mencari rezeki
Di usia senja yang berusia 68 tahun, Bapak Slamet masih tetap bekerja keras untuk mengayuh sepedanya demi menyambung hidupnya. Setiap hari, ia mangkal di sekitar Malioboro, Yogyakarta, berjuang demi menghasilkan penghidupan untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Meskipun usianya sudah lanjut, semangatnya dalam mencari nafkah tidak pernah pudar. Namun, penghasilannya hanya sekitar Rp10 ribu per hari. Ia mengakui bahwa saat ini penumpang becaknya agak sepi karena banyak penumpang lebih memilih ojek online.

Pria berusia lebih dari 68 tahun ini hidup sendiri di Kota Yogyakarta. Sehari-hari dia hidup diatas becak, benda berharga yang jadi sumber penghidupannya sehari-hari. Mengayuh bencaknya tanpa mengeluh dan tanpa alas kaki pula.

Setiap malam, ia tidur di atas becaknya yang ditutupi oleh lembaran plastik untuk melindungi dirinya dari hujan. Sekali seminggu, ia akan pulang ke Gunung Kidul, rumahnya, mengayuh sepedanya dari Malioboro ke Gunung Kidul. Meskipun merantau ke kota demi mencari penghasilan, uang yang dibawa oleh Pak Slamet tidak selalu cukup untuk membeli sembako yang dibutuhkannya sehari-hari bersama sang istri.
"Saya tahu, kadang tidak cukup, tetapi saya bersyukur," kata Pak Slamet dengan ramah.

Bapak Slamet adalah salah satu dari banyak pejuang nafkah di jalanan yang berjuang keras untuk menyokong keluarganya meskipun penghasilannya masih terbatas.
Dalam upaya untuk mendukung pejuang nafkah jalanan seperti Bapak Slamet, Dompet Dhuafa mengadakan program "Berbagi Sembako untuk Pejuang Nafkah Jalanan." Kami mengajak sahabat-sahabat semua untuk berbagi sembako secara gratis kepada ribuan pejuang nafkah jalanan dhuafa lainnya.

Ayo sahabat, kita berikan semangat dan kekuatan untuk para pejuang nafkan jalanan dengan klik DONASI SEKARANG.
75 Ibu Rumah Tangga dan Lansia Terima Sembako
Siang itu, Jumat (29/8/2025), sebanyak 75 ibu rumah tangga dan lansia berkumpul di Mushola At Taqwa, Kampung Pintu Air, Bekasi.
Mereka datang dengan wajah penuh harap, sebagian menggandeng cucu kecil, sebagian lagi masih menyeka peluh setelah berjalan kaki cukup jauh. Di tengah hiruk-pikuk kabar tentang aksi unjuk rasa di berbagai daerah, ada kisah-kisah sunyi yang sering luput dari perhatian. Mereka adalah para pejuang keluarga—perempuan tangguh yang setiap hari memikul beban ekonomi sekaligus menjaga rumah tangga.
Dengan berjualan gas elpiji dan isi ulang galon, ia bertahan hidup. Keuntungan kecil, hanya Rp2.000–Rp3.000 per tabung, ia syukuri demi makan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.
Klik Sedekah Sekarang untuk membantu menyediakan sembako bagi lansia, janda, dan dhuafa.



