
Sedekah Jariyah : Hadirkan Senyum, Bahagiakan Yatim Palestina
Dompet Dhuafa Hari itu, sebuah tangis bayi pecah di tengah pekatnya debu dan runtuhan kamp pengungsian Gaza. Bayi laki-laki itu diberi nama Hamza Al-Rubaie. Namun, di hari yang sama saat ia menghirup napas pertamanya, kedua orang tuanya mengembuskan napas terakhir akibat serangan udara.

Tragedi Hamza tidak berhenti di sana. Ketiga saudara kandungnya pun menyusul pergi, meninggalkan bayi mungil ini sendirian, menjadi satu-satunya nama yang tersisa dari kartu keluarganya.
Bagi Maha, menggendong Hamza seperti ditarik paksa oleh mesin waktu ke tahun 2008. Belasan tahun lalu, di bawah langit Gaza yang sama, ia merawat seorang anak yatim akibat perang bernama Omar. Omar adalah ayah Hamza. Kini, di usianya yang tak lagi muda dan fisik yang mulai melemah, Maha harus kembali memeluk takdir yang sama: merawat putra dari Omar, yang juga yatim akibat perang yang tak kunjung usai. Sejarah pilu yang berulang, trauma yang diwariskan.

Hamza kini menjadi bagian dari sebuah realitas yang teramat kelam. Berdasarkan laporan terbaru dari Dana Anak PBB (UNICEF), hampir 40.000 anak Palestina kini telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka. Angka ini menorehkan luka sejarah baru: menjadikan genosida Gaza sebagai krisis yatim terbesar dalam sejarah modern.
Mereka semua adalah bagian dari angka yang seharusnya mencengangkan dunia. Sejak Oktober 2023, lebih dari 73.500 warga Palestina telah gugur, dan 21.510 di antaranya adalah anak-anak.
Anak-anak yang seharusnya terbangun karena kecupan hangat orang tua, kini terbangun karena dentuman rudal. Mereka yang seharusnya belajar di ruang kelas yang nyaman, kini harus belajar cara bertahan hidup di tengah kelaparan, pengungsian, dan kengerian yang teramat sangat tanpa ada lagi tangan ayah atau ibu yang mendekap mereka.

Bahkan, ketika umat Muslim di berbagai belahan dunia menyambut malam Iduladha dengan gema takbir dan suka cita, langit Gaza kembali menyala oleh api. Sedikitnya 33 nyawa melayang dan 130 lainnya luka-luka. Serangan ini pun kian meluas, melukai hingga ke perbatasan Lebanon. Di hadapan mata dunia yang terpejam, suara anak-anak Gaza nyaris tenggelam oleh puing dan tangisan.

Ya Rabb, Hasbunallah wa ni'mal wakil...
Sampai kapan genosida ini akan berlangsung? Sampai kapan saudara-saudara kita harus memeluk ketakutan setiap detiknya?
Sahabat sekalian... Jangan pernah lelah dan abai. Palestina bukan sekadar wilayah yang sedang di jajah. Ia adalah tanah yang diberkahi, tanah para nabi, yang memiliki tempat suci di hati kita.

Hamza, dan puluhan ribu anak yatim lainnya di Gaza, adalah simbol ketahanan dan masa depan Palestina yang sedang dipertahankan.
Mari hadirkan pelukan hangat kita untuk mereka. Buktikan bahwa di tengah gelapnya dunia, mereka tidak pernah sendirian. Mari jaga, lindungi, dan hadirkan senyum untuk anak-anak yatim Palestina.
Karena setiap anak berhak tumbuh dengan cinta, bukan dengan suara perang. π΅πΈβ€οΈ Muliakan Yatim Palestina dengan Klik DONASI SEKARANG
