
DARURAT KESEHATAN PAPUA: 796 KUSTA, RATUSAN ANAK SCABIES!
Dompet Dhuafa Jauh dari hingar-bingar ibukota, Papua berdiri kokoh dengan sumberdaya alam yang melimpah. Emas, perak, tembaga, bauksit, nikel, batu bara, minyak, gas bumi, hingga hutan hujan tropis yang tak ternilai harganya untuk keberlangsungan hidup manusia dan seluruh ekosistem kehidupan.

Namun di tengah kekayaan alamnya yang melimpah, sebagian penduduknya justru hidup dalam ketimpangan. Kemiskinan merajalela, merenggut hak dan kebebasan mereka untuk mendapat akses kesetaaraan, termasuk kesetaraan di bidang kesehatan.

Pada tahun 2024, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat mencatat ada sebanyak 796 orang menderita kusta. Kondisi ini menajdikan Papua Barat sebagai provinsi dengan tingkat kusta tertinggi di Indonesia dengan prevelesi 13,76 per 10 ribu penduduk. Disusul Provisi Papua dengan prevelensi 10,77 dan Papua Barat Daya dengan prevelensi 8,2.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Papua Barat, dr Nurmawati menyatakan, kusta merupakan penyakit kronis yang terabaikan. Penularan bakteri mycobacterium leprae (penyebab kusta) menyebabkan penderitanya mengalami kerusakan permanen saraf tepi, kulit mati rasa, kebutaan, hingga kerusakan ginjal.
Sama halnya dengan kusta, scabies (kudis) juga jadi penyakit kulit tak berkesudahan di Papua.

Buruknya sanitasi, kebersihan yang tidak terjaga, dan padatnya penduduk menyebabkan jumlah penderita kudis meningkat di Papua. Karena hal ini, banyak anak kesakitan bahkan tak bisa sekolah karena luka menyebar hingga organ genital.

Seperti dianak tirikan, di tempatnya yang "bergelimang kekayaan", faktanya sebagian rakyat Papua hidup dalam penderitaan. Tak ada kemewahan, tak ada jaminan bahkan untuk sekedar hidup sehat.
Ayo bantu saudara Papua dapatkan kembali haknya!
Bantu mereka hidup sehat dan dapatkan kesempatan hidup lebih baik, klik DONASI SEKARANG
