
Kuatkan harapan, temani perjuangan Palestina
Dompet Dhuafa Tanpa sadar di tengah keheningan dunia, penjajahan ini sudah berlangsung hingga 76 tahun. Seakan Nakba kedua, Genosida sejak 2023 menewaskan lebih dari 71.4000 warga sipil, ratusan ribu lainnya luka-luka akibat kejamnya zionis Israel.
Di tengah puing-puing rumah yang runtuh dan kota yang hancur, jutaan keluarga terpaksa mengungsi. Hari-hari mereka kini dihabiskan di tenda pengungsian yang jauh dari kata layak. Kainnya robek, alasnya basah, dan ketika hujan turun, air masuk tanpa permisi. Angin musim dingin berembus kencang, dengan suhu malam yang bisa turun hingga sekitar 8–11 derajat Celsius. Dingin, menggigit, dan melemahkan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Sebentar lagi, mereka akan menyambut bulan penuh makna, dalam kondisi lapar, kedinginan, dan bantuan yang masih terhalang. Sedangkan di belahan bumi Allah yang lain, Ramadan datang bersama aroma masakan rumah, doa-doa yang dipanjatkan dengan damai, dan rasa aman saat malam tiba.
Ramadan yang semestinya menjadi waktu memulihkan luka, kembali mereka lalui dengan luka yang belum sempat sembuh.

Insya Allah dengan segala ikhtiar, Dompet Dhuafa akan hadir pada bulan Ramadan untuk masyarakat Palestina dengan berbagai program kebaikan, diantaranya paket sahur dan berbuka, paket parsel lebaran, pengadaan mushaf al-qur'an, winter kit, air bersih, paket logistik dan layanan medis.
Karena Palestina tidak sedang meminta belas kasihan. Mereka hanya ingin bertahan sedikit lebih kuat, sedikit lebih hangat. Sama-sama mari hiasi bulan Ramadan mereka dengan kebahagiaan tanpa kelaparan, karena harus berpuasa tanpa makanan sahur ataupun berbuka.
Semoga kita semua dapat menjalani Ramadan dengan damai penuh ketaqwaan dan saudara kita di Palestina segera mendapatkan keadilan dan kebebasan dari Zionis. Aaamiiin.
Sahabat, selain doa yang menghidupi hari, uluran tangan bersama bisa ukir bahagia saudara kita di Palestina. KLIK DONASI SEKARANG
Kapal Harapan Dihentikan, 640 Ribu Warga Gaza Kini di Ambang Kelaparan Ekstrem...
Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir.
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong."
Pada Rabu, 29 April 2026, sebanyak 21 kapal kemanusiaan dari Global Sumud Flotilla yang sedang berlayar menuju Gaza kembali dibajak Israel di perairan internasional.

Kapal-kapan itu berlayar dengan satu tujuan sederhana: membawa harapan. Di dalamnya ada makanan, obat-obatan, dan bantuan yang sudah lama dinantikan oleh jutaan warga Gaza yang hidup dalam blokade Israel.
Tak hanya membawa bantuan, kapal kemanusiaan ini berlayar untuk menembus blokade kemanusiaan di Gaza.

Data Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menunjukkan, lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza kini hidup dalam kondisi kerawanan pangan akut. Sedangkan sekitar 640.700 orang berada di ambang kematian akibat kelaparan.
Angka itu bukan sekadar statistik, tapi manusia : anak-anak, ibu, dan keluarga yang perlahan kehabisan daya untuk bertahan.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah apa yang disebut sebagai “gencatan senjata”. Serangan udara, drone, dan kekerasan masih terus berlangsung setiap hari. Sejak Oktober 2025, sekitar 800 warga sipil Palestina telah kehilangan nyawa. Damai hanya terdengar dalam kata, tapi tidak pernah benar-benar dirasakan

Selama "gencatan senjata" 600 truk bantuan kemanusiaan dijanjikan, namun hanya sekitar 150 truk yang diperbolehkan masuk ke Gaza.
Lebih dari 2 juta rakyat Palestina kini hidup sebagai pengungsi di tanah mereka sendiri. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tapi juga rasa aman, kepastian, dan masa depan. Di tengah dunia yang perlahan mengalihkan perhatian, mereka masih menunggu bukan sesuatu yang mewah, tapi sekadar kehidupan yang layak.

Lantangkan suara, kirimkan doa terbaik, dan sisihkan bantuan terbaikmu hari ini, karena bagi mereka, itu bisa jadi satu-satunya harapan untuk bertahan hidup. KUATKAN SOLIDARITAS UNTUK PALESTINA
